Berlangganan Disney+ hotstar, gue jadi nonton musical tentang Alexander Hamilton. Terus tau gak deskripsi orang tentang dia apa? “Idealis naïf yang penuh impian”
Somehow I saw myself
that way, too.
Sebelum sekolah di IC dan tinggal di asrama, gue gak pernah
tau rasanya gagal. Segalanya lancar adem ayem bahkan ketika gue gak berekspektasi
apa-apa. Effortless banget lah. Sampai
ketika gue sekolah di sana kok gue gagal terus. Hahaha. Terseok-seok banget
buat survive sekolah doang, Ya Rabb.
Sayangnya, setelah gue tau rasanya gagal—dan perasaan itu
gak enak banget—gue akhirnya punya mindset
lebih baik gak usah mencoba, daripada gagal.
Dan itu kebawa sampai kuliah.
Saking gue menghindari kegagalan, gue gak nyoba sama sekali.
Gak ada orang yang peduli sama orang yang gagal, menurut gue
saat itu.
Menjelang lulus, alhamdulillah
dapat pembimbing skripsi yang care.
Suka ngingetin biar gue gak wishful
thinking alias berharap 10 tapi usahanya cuma 3. Ditambah banyak
baca buku self-help yang membuka
pikiran gue lebar-lebar kalau mindset
gue selama ini ternyata salah besar. That
didn't save my life at all. Impian gue gak ada yang ‘jadi’. Malah gue gak
kemana-mana.
Sekarang jadi punya mantra-mantra sendiri supaya mindset realistis dikit. “Gak apa-apa salah—kan dari kesalahan kita jadi tahu mana yang benar” “Percobaan pertama memang gak sempurna” "Yuk abisin jatah gagal" “Emang gak bisa sih nyenengin semua orang” yang terinspirasi dari pengalaman sehari-hari.
Well, I’m still an idealist but I’m working on it!

Comments
Post a Comment