Skip to main content

Posts

Showing posts from 2020

Day 6: Single and Happy

Gue mau bikin pengakuan bahwa selama hampir 24 tahun gue di dunia, i am a living proof that someone who single and happy is exist *proudself *ngikirkuku OK, so buat yang lagi in relationship and you know you're not happy , let me tell you this ... Step 1: Cari tahu apa yang salah. Evaluasi sama pasanganmu dan berusaha perbaiki perilaku sebelumnya BARENG-BARENG. Inget ya, poinnya disini kamu dan pasangan harus sama-sama berusaha, kalo cuma satu pihak yang kerja, then the relationship is not working . Step 2: Punya mindset "Lebih baik sendiri daripada menghabiskan waktu dengan orang yang salah". Semua orang berhak untuk diperlakukan dengan baik. Berhak untuk bahagia dalam hidupnya. Keputusan untuk single bikin kita punya kesempatan baru buat ketemu dengan orang yang lebih baik. Yay! Step 3: Tentu kita nggak langsung cari pacar lagi, dong. Yang terpenting saat ini adalah kita mencintai diri sendiri a.k.a Self-Love . Nikmati setiap detik yang sedang kita jalani saat ini. Car...

Day 5: My Parents

Seperti yang gue tulis di postingan hari ke dua , gue adalah anak yang bersyukur dilahirkan dari kedua orangtua yang seperti kedua orangtua gue. Padahal seperti remaja kebanyakan, dulu gue juga sempat berharap orangtua gue adalah orangtuanya temen-temen gue. Terus apa yang membuat gue jadi bersyukur sekarang? 1. Orangtua gue well-planned Banyak hal yang nggak gue sadari saat itu, ternyata berdampak buat gue saat ini. Gue adalah anak pertama dan baru punya adik di usia 6 tahun, di tahun yang sama gue masuk sekolah TK. Menurut gue keputusan orangtua gue untuk ngasih jarak lahir setelah gue mulai sekolah adalah ide yang brilian abis, sih. Hal ini bikin masa kecil gue merasa disayang dan cukup punya banyak memori kebersamaan yang bahkan masih gue inget sampai saat ini.  2. Orangtua gue keduanya bekerja Ini juga termasuk yang baru gue sadari sekarang, sih. Punya ibu yang bekerja, tuh, entah kenapa lebih dihormati aja. Dimaklumi juga kalau nggak ikut ngegosip sama tetangga karena punya u...

Day 4: Places I Want to Visit

Hua topik favoritku!! Lagi pandemi gini emang enaknya ngehalu ya.  1. La La Land Filming Location Ini tiba-tiba aja kepikiran pas nulis. Mumpung gue khatam semua soundtrack- nya kayaknya gue terharu deh kalo bisa kesini. *Kalau bisa sih dateng kesananya cuma berdua sama Ryan Gosling* *Halu gak boleh nanggung, Sis* 2. Walk of Fame Walaupun katanya b aja sih disana dan panas juga tp tetep pengen, hehehe. Karena ga mungkin ketemu aktor/akrtisnya jd kita ketemu semuanya aja sekali jalan, LOL . Kebetulan wallpaper handphone gue sekarang adalah Leonardo Di Caprio waktu masih muda lagi jalan di Walk of Fame, sayangnya sampai sekarang nama dia belum ada disini, huhu. Anyway , nama almarhum petinju legendaris, Muhammad Ali, juga ada tapi beliau menolak dipasang di jalan karena nama nya mengandung nama "Muhammad" sehingga beliau request dipasang di dinding. Jadilah beliau beda sendiri punya Wall of Fame. Cool! 3. Central Perk (F.R.I.E.N.D.S Cafe) Dari awal tahun 2020 hari-hari gue ud...

Day 2: Things That Makes Me Happy

Freedom. Sepertinya itu sih, hal yang membuat gue senang. Freedom to think, freedom to choose, freedom to be. Bukan sepenuhnya dan malah jadi pergaulan bebas juga sik. Tetep sesuai protokol kesehatan  aturan keluarga. Karena sudah tersosialisasi dari kecil, kan? Hal yang gue syukuri sampai saat ini adalah orang tua gue memberikan gue kesempatan untuk memilih jurusan kuliah yang gue mau. Padahal gue yakin mereka gak familiar dengan ilmu psikologi. Kalau aja gue bernasib seperti banyak anak lainnya yang gak punya kesempatan memilih, kayaknya gue akan terus penasaran dan merasa jadi korban seumur hidup. I'm thankful for my mom and dad.

Day 1: Personality

Berlangganan Disney+ hotstar, gue jadi nonton musical tentang Alexander Hamilton. Terus tau gak deskripsi orang tentang dia apa? “Idealis naïf yang penuh impian” Somehow I saw myself that way, too. Sebelum sekolah di IC dan tinggal di asrama, gue gak pernah tau rasanya gagal. Segalanya lancar adem ayem bahkan ketika gue gak berekspektasi apa-apa. Effortless banget lah. Sampai ketika gue sekolah di sana kok gue gagal terus. Hahaha. Terseok-seok banget buat survive sekolah doang, Ya Rabb . Sayangnya, setelah gue tau rasanya gagal—dan perasaan itu gak enak banget—gue akhirnya punya mindset lebih baik gak usah mencoba, daripada gagal. Dan itu kebawa sampai kuliah. Saking gue menghindari kegagalan, gue gak nyoba sama sekali. Gak ada orang yang peduli sama orang yang gagal, menurut gue saat itu. Menjelang lulus, alhamdulillah dapat pembimbing skripsi yang care . Suka ngingetin biar gue gak wishful thinking alias berharap 10 tapi usahanya cuma 3. Ditambah banyak baca buku ...

Belajar Ukulele

How’s quarantine? Gue sendiri mulai belajar ukulele. Dari dulu gue udah naksir banget sama alat musik. Bahkan pas SD ikut ekskul marching band pun gue cobain tampil pake banyak alat (drum, tenor, pianika, dan belera) kecuali simbal sama bass deng (gede banget kasian ama bodi kita). Tapi nggak pernah belajar yang serius gimana mainin alat musik sampe mahir ngiringin lagu. Sejak Covid19 ini, gue udah mulai mikir tahun 2020 emang unik dan nothing worst than this pandemic . Jadi coba aja apapun yang mau lo coba di tahun ini. Dan bener, belajar ukulele ternyata gampang banget menurut gue, bahkan gue udah bisa mainin sambil nyanyi di hari ke 2 gue belajar uke. Entah karena dari kecil telinga gue sudah terbiasa sama melodi dan ketukan atau emang selama ini gue fixed mindset aja. Simpelnya cuma perlu belajar 2 hal untuk pemula:            Belajar kunci yang umum kayak C Am Dm G F            Belajar macam-macam strumming (g...

Quarter Life Crisis

3 hari lalu saya sengaja uninstall instagram karena sebuah kejadian. Rasanya saya perlu untuk mengasingkan diri sejenak agar merasa lebih baik. Namun di hari selanjutnya saya perlu mengedit beberapa foto menjadi satu, yang akan mudah kalau menggunakan fitur layout di instastory. Tanpa sengaja saya melihat bahwa seseorang yang saya follow akan mengadakan instagram live mengenai quarter life crisis . Sebenarnya saya sudah tidak asing dengan istilah tersebut, tetapi saya penasaran bagaiaman pembahasannya menurut pandangan dua pembicara ini mengingat ia adalah lulusan psikologi di kampus ternama. Benar saja, saya bahkan membuat catatan mengenai topik ini dan menyimak hingga akhir. Berikut sedikit rangkuman sesi instagram live @srizzati x @nadiladara 10 Mei 2020. Quarter life crisis (QLC) pada dasarnya dialami oleh hampir semua orang di rentang usia 20-30 tahun.   Definisi QLC adalah a period of insecurities, doubts, disappoinments about relationship, career, and financi...

Merasa Cukup

Tadi pagi, mungkin setelah sahur, seorang teman mengirimkan pesan kepada saya “Cewek mau diajak tinggal di apartemen kayak gini gak sih?” Dia kirimkan desain tata letaknya. Saya pelajari, “Segede kamar hotel ya. Ya sesuai kebutuhan masing-masing sih, kalau dia minimalis parah mungkin mau, wkwkwk” jawab saya. Lalu dia bertanya lagi, kalau saya inginnya seperti apa. Saya jawab kalau saya sepertinya ingin tempat tinggal yang ada livingroom -nya supaya lebih besar sedikit. Mungkin ya, seperti itu bayangan saya. Setelah saya terpapar dengan minimalisme saya merasa cocok untuk menerapkannya di rumah saya nanti. Tidak perlu rumah yang besar karena semakin besar rumah akan semakin besar juga waktu, usaha dan biaya untuk merawatnya. Sesuai kebutuhan saja, dan sesuai budget juga tentunya. Saya tidak ingin membuang waktu untuk memoles apa yang saya punya terus menerus tanpa peduli pada sekitar. Saya belum tahu akan jadi apa 10-20 tahun lagi. Semoga saya di masa depan sudah merasa...

Menjadi Manusia

Manusia, ya, jadi manusia aja. Pertama kali saya denger kalimat ini dari @nkcthi, sebuah akun instagram yang nerima curhatan orang untuk bahas topik tertentu setiap malam. Kemudian sebagai kesimpulan, orang baik di balik akun akan membuat beberapa kalimat sederhana yang menenangkan perasaan kecewa, khawatir, marah, ataupun sedih yang lagi dialami sama para pembacanya. Di tahun nkcthi nge hype , saya lagi belajar psikologi. Saya belajar tentang apa yang mendorong manusia untuk berbuat sesuatu, tentang bagaimana emosi bisa muncul, tentang pola asuh orang tua yang membentuk anak hingga dewasa. Pada suatu titik saya pernah merasa ilmu psikologi perlu masuk kurikulum nasional supaya semua orang bisa mengenal diri dan orang lain dengan lebih baik. Somehow , menurut saya nkcthi sukses bikin warga instagram indonesia aware   dengan kesehatan mental melalui kalimat-kalimat sederhana yang sengaja dibuat penulisnya. Anyway , skip dulu tentang nkcthi Manusia, ya, jadi m...

Memulai

Halo, saya Selvi. Hm sori nih gausah repot-repot meragain lagi foto pake kamera depan, iya, makasih. Saya mau mulai nulis lagi nih, kayaknya. Dulu waktu mulai ngeblog kayaknya saya masih 15 tahun, dan 8 tahun berselang ada banyak banget yang saya pelajari dalam hidup ini yang sayang kalo nggak dibagi. Buat yang kenal saya pasti tau kalau saya idealis parah, padahal gak ada yang nuntut. Buat mulai blogging aja saya udah mikirin “Mau pake kata ganti aku, gue atau saya, ya?” “Enaknya pakai bahasa Indonesia baku atau bahasa ngobrol sehari-hari?” “Kayaknya harus punya tujuan menulis dulu nih biar ga stuck ditengah jalan.”  Hehe, agak ngeribetin ya. Makanya ketika saya dengan seribu satu alasan untuk nunda nulis, eh gak sengaja baca kutipan Wiji Thukul yang bilang “Apa gunanya baca buku kalau mulut kau bungkam melulu” rasanya kayak dibilangin “Apa gunanya punya ilmu kalau cuma buat disimpen sendiri?” Jujur, gak berniat menginspirasi, cuma berharap...