Skip to main content

Menjadi Manusia



Manusia, ya, jadi manusia aja.

Pertama kali saya denger kalimat ini dari @nkcthi, sebuah akun instagram yang nerima curhatan orang untuk bahas topik tertentu setiap malam. Kemudian sebagai kesimpulan, orang baik di balik akun akan membuat beberapa kalimat sederhana yang menenangkan perasaan kecewa, khawatir, marah, ataupun sedih yang lagi dialami sama para pembacanya.

Di tahun nkcthi ngehype, saya lagi belajar psikologi. Saya belajar tentang apa yang mendorong manusia untuk berbuat sesuatu, tentang bagaimana emosi bisa muncul, tentang pola asuh orang tua yang membentuk anak hingga dewasa. Pada suatu titik saya pernah merasa ilmu psikologi perlu masuk kurikulum nasional supaya semua orang bisa mengenal diri dan orang lain dengan lebih baik. Somehow, menurut saya nkcthi sukses bikin warga instagram indonesia aware  dengan kesehatan mental melalui kalimat-kalimat sederhana yang sengaja dibuat penulisnya.

Anyway, skip dulu tentang nkcthi

Manusia, ya, jadi manusia aja.

Setelah lulus kuliah, saya melihat realita yang lebih besar dari yang saya lihat sebelumnya. Saya baru tahu kalau nyari kerja nggak mudah meskipun IPK cumlaude, ternyata mengerjakan pekerjaan domestik setiap hari itu gak gampang, ternyata hashtag marriagegoals dan couplegoals isinya nggak cuma seneng-seneng aja, ternyata hidup pascakampus itu nggak sesimpel lulus - kerja - nikah - beli rumah - punya anak - beli mobil - jalan-jalan keliling dunia, tapi ada dinamikanya dan tiap orang menjalani dinamika yang berbeda.

Dinamika itu yang bikin manusia punya momen. Momen terlalu ambis sampe bikin salah, kecewa sama hasilnya, nyesel setelah ambil pilihan yang diidam-idamkan, atau patah hati abis diputusin. Ternyata itu wajar dan semua momen itu yang bikin kita belajar.

Comments